JOGJABROADCAST, Solo — Di atas panggung Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII, padi tidak hanya hadir sebagai simbol pangan. Ia menjelma menjadi cerita tentang kehidupan, keseimbangan, alam, hingga harapan manusia untuk tumbuh menjadi lebih baik.
Cerita itu hadir melalui “Tari Nadi Padi”, karya komunitas seni asal Yogyakarta, Lembah Manah Arts Labs, yang tampil pada Sabtu, 6 September 2026. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu bagian dari FESPIN XIII yang berlangsung pada 4-6 September 2026 dengan tema besar “Catra Padi”.
FESPIN tahun ini memperlihatkan wajah festival yang semakin terbuka. Payung tidak lagi menjadi satu-satunya pusat perhatian. Berbagai disiplin seni bertemu dan membangun narasi bersama tentang kehidupan.
Lembah Manah Arts Labs membawa narasi tersebut melalui gerak tubuh para penari. Inspirasi karya “Tari Nadi Padi” berangkat dari filosofi Wu Xing, yang mengenal lima unsur utama kehidupan: kayu, api, tanah, logam, dan air.
Kelima unsur itu kemudian diterjemahkan ke dalam gerakan tari. Dua energi yang direpresentasikan melalui para penari menggambarkan proses alam dalam menghidupkan benih hingga tumbuh menjadi tanaman padi.
Air memberi kehidupan. Tanah menjadi tempat bertumbuh. Cahaya dan kekuatan alam ikut menentukan perjalanan. Semua unsur bergerak dalam keseimbangan hingga benih berkembang dan menghasilkan padi yang matang.
Namun, cerita “Tari Nadi Padi” tidak berhenti ketika bulir padi menguning. Panen justru menjadi awal dari makna yang lebih luas.
Padi yang telah berisi kemudian kembali kepada manusia sebagai sumber kehidupan dan pangan. Dari sana, karya ini menyampaikan gagasan tentang sebuah siklus: alam memberi kehidupan kepada manusia, sementara manusia memiliki tanggung jawab untuk kembali menjaga kehidupan.
Founder Lembah Manah Arts Labs, Angela Stefanie, mengatakan kehadiran FESPIN tahun ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Menurut dia, ruang kolaborasi dalam festival kini semakin luas. Selain sejumlah cabang seni multidisiplin yang sebelumnya terlibat, musik turut menjadi bagian dari rangkaian FESPIN XIII.
“FESPIN tahun ini terasa berbeda karena ruang kolaborasinya semakin kaya. Musik juga masuk dalam rangkaian acara, sehingga para seniman memiliki ruang ekspresi yang lebih luas,” ujar Angela.
Ketika Kostum Menyimpan Cerita
Ada bagian lain dari pertunjukan yang mungkin luput dari perhatian penonton. Kostum yang dikenakan para penari bukan sekadar pakaian panggung.
Setiap helai kain dilukis langsung oleh anggota Ruang Pulang, komunitas keluarga yang tumbuh dari naungan Lembah Manah Arts Labs.
Lukisan pada kain tersebut menjadi semacam arsip emosi. Di dalamnya terdapat cerita tentang kesedihan, kebahagiaan, harapan, hingga doa orang-orang yang ingin menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Ruang Pulang memang dirancang sebagai ruang pemulihan. Fokusnya adalah memperbaiki hubungan, membangun komunikasi, sekaligus membantu seseorang memahami dirinya sendiri dan pengalaman inner child yang dibawanya.
Melalui pendekatan tersebut, para peserta diajak mengenal konsep free self love. Harapannya, proses menerima dan memahami diri dapat menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang lebih baik.
“Dengan kegiatan mindfulness yang kami miliki, terciptalah cerita dan karya di dalamnya, dan salah satu contohnya adalah karya dari bahan kain yang digunakan penari kami,” kata Angela.
Bagi Lembah Manah Arts Labs, FESPIN XIII juga menjadi ruang untuk memperlihatkan perjalanan belajar para anak didiknya. Penampilan tahun ini merupakan kali kedua komunitas tersebut ambil bagian dalam festival.
Sejumlah peserta yang selama ini belajar dalam kelas multidisiplin seni mendapat kesempatan untuk membawa hasil proses mereka ke atas panggung. Kelas tersebut meliputi Hanacaraka, Movement Labs, Music Labs, Visual Art Labs, hingga Sastra Labs.
Dengan demikian, panggung FESPIN bukan hanya menjadi tempat mempertontonkan karya yang sudah jadi. Ia juga menjadi ruang pertemuan antara proses belajar, pengalaman personal, dan keberanian untuk tampil di hadapan publik.
“Tari Nadi Padi” dibawakan oleh Sherlyana Kusumawati, Alisya Fitri Ramadhani, An-nissa Elmayra Wahyu Sulistyo, dan Nuraini Eka Putri. Koreografi digarap oleh Lembah Manah Arts Labs, sementara penataan musik dipercayakan kepada Adira Hesti Ksvara.
Pada akhirnya, “Tari Nadi Padi” tidak hanya bercerita tentang bagaimana padi tumbuh. Ia mengajak penonton melihat kehidupan sebagai sebuah siklus yang membutuhkan keseimbangan—tentang bagaimana manusia tumbuh, menerima proses, memanen pengalaman, lalu kembali memberi sesuatu bagi kehidupan di sekitarnya. (edy)