JOGJABROADCAST-YOGYAKARTA – Teh bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari sejarah panjang peradaban manusia. Di berbagai belahan dunia, tradisi minum teh telah menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di Indonesia.
Sebagai negara dengan jejak panjang perkebunan teh sejak era kolonial, Indonesia pernah menempatkan teh sebagai komoditas penting dalam perdagangan internasional. Hingga kini, industri teh nasional masih bertahan, meski menghadapi sejumlah tantangan.
Berdasarkan data terbaru, produksi teh kering Indonesia pada 2024 diproyeksikan berada di kisaran 118.895 hingga 140.000 ton. Jawa Barat masih menjadi kontributor terbesar dengan produksi sekitar 80.241 ton. Namun di sisi lain, industri ini juga dihadapkan pada penyusutan luas lahan yang kini tersisa sekitar 97,5 ribu hektare.
Ketua Dewan Teh Indonesia, (DTI) Iriana Ekasari, menekankan pentingnya edukasi dan inovasi agar teh tetap relevan di tengah perubahan zaman. Hal tersebut disampaikannya di sela kegiatan Tea Class dalam pameran Food and Beverage di Jogja Expo Center, Sabtu (11/4/2026).
“Persoalan utama teh saat ini adalah relevansi. Apakah produk teh yang kita hasilkan masih sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen, terutama generasi muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sekitar 50 persen populasi Indonesia saat ini merupakan generasi muda. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri teh untuk beradaptasi, baik dari sisi produk, kemasan, hingga cara penyajian.
“Teh harus mampu terhubung dengan gaya hidup generasi muda. Kalau tidak, kita akan tertinggal,” tambahnya.
Menurut Iriana, Dewan Teh Indonesia berupaya menjadi jembatan antara produsen dan pasar, khususnya dalam mendorong inovasi produk. Berbagai varian teh dengan sentuhan modern dinilai perlu dikembangkan agar mampu menjawab selera pasar yang terus berubah.
Melalui kegiatan Tea Class, masyarakat diperkenalkan pada beragam cara pengolahan dan penyajian teh yang lebih kreatif. Mulai dari teknik penyeduhan yang tepat hingga inovasi campuran bahan yang menghasilkan cita rasa baru.
“Harapannya, teh tidak lagi dipandang sebagai minuman tradisional semata, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup modern yang diminati generasi muda,” pungkasnya. (dwi)