Ekonomi 3 menit membaca

Syawalan Teras Malioboro Perkuat Nilai “Tepa Salira” untuk Bangun Ekosistem UMKM yang Harmonis dan Berdaya Saing

Syawalan Teras Malioboro Perkuat Nilai “Tepa Salira” untuk Bangun Ekosistem UMKM yang Harmonis dan Berdaya Saing
Syawalan Teras Malioboro Perkuat Nilai “Tepa Salira”

JOGJABROADCAST-Yogyakarta – Semangat membangun ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan terus digaungkan di kawasan Teras Malioboro. Hal tersebut menjadi landasan semangat dalam ajang gelaran Syawalan Teras Malioboro yang berlangsung pada Rabu (15/4-2026) di kawasan Teras Malioboro. Syawalan yang dihadiri para pedagang ini menjadi semakin meriah karena para pedagang memanfaatkan momentum untuk saling silaturahmi.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DIY Agus Mulyono mengemukakan bahwa Melalui tema “Tepa Salira Mbangun Katentreman lan Paseduluran Jati”, para pelaku usaha diajak untuk tidak hanya berfokus pada aktivitas ekonomi, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan harmoni sosial.

Dia juga menambahkan bahwa tema tersebut dinilai bukan sekadar jargon budaya, melainkan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan usaha yang saling mendukung. Nilai tepa salira yang mengedepankan empati, tenggang rasa, dan saling menghormati menjadi pijakan utama untuk tumbuh bersama dalam ekosistem UMKM yang semakin kompetitif.

Saat ini, Teras Malioboro telah berkembang menjadi lebih dari sekadar pusat perdagangan. Kawasan ini menjelma sebagai ruang interaksi sosial, ruang budaya, sekaligus ruang pembelajaran bagi para pelaku usaha dan masyarakat. Di dalamnya, terbangun relasi yang tidak hanya berbasis transaksi, tetapi juga kepercayaan dan solidaritas.Ujarnya lagi .

Dalam konteks pengembangan UMKM, tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks. Tidak hanya soal peningkatan omzet, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang tertib, kolaboratif, dan mampu bersaing di tengah dinamika pasar.

Untuk itu, penguatan Teras Malioboro ke depan dipandang perlu bertumpu pada lima aspek utama.

Pertama, kedisiplinan sebagai fondasi kawasan. Ketertiban, kepatuhan terhadap aturan, serta konsistensi dalam operasional menjadi kunci utama menciptakan kawasan yang nyaman dan terpercaya bagi pengunjung.

Kedua, pelayanan sebagai wajah utama. Interaksi antara tenant dan pengunjung akan sangat menentukan pengalaman berbelanja. Pelayanan yang ramah, jujur, dan profesional menjadi nilai penting yang harus terus dijaga.

Ketiga, kualitas produk sebagai daya saing. Produk yang memiliki standar, konsistensi, serta keunikan akan memperkuat posisi Teras Malioboro sebagai destinasi unggulan di Yogyakarta.

Keempat, kebersamaan sebagai kekuatan. Kolaborasi antar pelaku usaha, saling mendukung, serta menjaga suasana kondusif menjadi faktor penting dalam menciptakan pertumbuhan bersama.

Kelima, pengelolaan kawasan sebagai tanggung jawab bersama. Kebersihan, kerapihan, dan kenyamanan tidak hanya menjadi tugas pengelola, tetapi seluruh pihak yang beraktivitas di dalamnya.

Dengan penguatan lima aspek tersebut, Teras Malioboro diharapkan mampu terus berkembang sebagai pusat UMKM yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga kokoh dalam nilai budaya dan sosial, sejalan dengan semangat “tepa salira” yang menjadi ruh kebersamaan masyarakat Yogyakarta.

 

Gelar Syawalan menjadi lebih menarik dengan kehadiran ulama kondang Gus Muwafiq yang memberikan isian spiritual dalam acara tersebut. (dwi)