Ekonomi 5 menit membaca

Kolaborasi Multipihak Koperasi desa merah putih untuk ekspor herbal Sri Agung ke Timur Tengah.

Kolaborasi Multipihak  Koperasi desa merah putih untuk ekspor herbal Sri Agung ke Timur Tengah.
Seminar Kolaborasi Multipihak Koperasi desa merah putih

JOGJABROADCAST-WONOSARI-Menyambut Hari Koperasi Nasional ke-79 pada 12 Juli 2026, Yayasan Griya Jati Rasa bersama Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa dan Pemerintah Kalurahan Bleberan menggelar Seminar Strategis di Rumah Produksi Sri Agung, Kapanewon Playen, Kamis (9/7). Kegiatan ini mengimplementasikan secara nyata tema nasional "Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya" melalui penguatan kemitraan taktis antara koperasi desa dan bisnis lokal yang sudah berjalan di masyarakat.

Kemitraan strategis ini dirancang untuk mendongkrak keberlanjutan produk lokal sekaligus merebut pasar ekspor global. Koperasi Desa Merah Putih hadir sebagai agregator bagi ekosistem bisnis akar rumput yang sudah mandiri, seperti Kelompok Herbal Sri Agung yang dipimpin oleh Ibu Sri Kustini, seorang anggota aktif Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa. Langkah taktis ini langsung diwujudkan dengan integrasi produk herbal dan makanan olahan turunan singkong milik Sri Agung ke dalam sistem internet serta 7 gerai retail resmi milik koperasi.

Sebagai penyokong PDRB terbesar kedua di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ketangguhan UMKM Gunungkidul kini diarahkan untuk menangkap peluang ekspor senilai Rp 2,5 Miliar di Arab Saudi. Melalui seminar ini, pihak eksekutif dan legislatif bersinergi menyusun draf rekomendasi kebijakan dan tata niaga guna memasok obat serta minuman herbal bermutu untuk kebutuhan Jemaah Haji Indonesia di luar negeri.

"Esensi dari Koperasi Berdaya adalah koperasi mampu memayungi dan mempercepat laju bisnis desa yang sudah berjalan tanpa mematikan usaha swadaya rakyat. Sinergi Koperasi Desa Merah Putih dan Kelompok Sri Agung binaan Ibu Sri Kustini ini menjadi proyeksi nyata bagaimana produk lokal bisa naik kelas secara berkelanjutan di kancah internasional," ujar Ustadz Beny Susanto, Ketua Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa yang hadir memberikan sambutan sekaligus bertindak sebagai moderator menggantikan konseptor acara, Farsijana Adeney-Risakotta Ph.D, Direktur Yayasan Griya Jati Rasa, yang berhalangan hadir karena sakit.

Hadir sebagai narasumber utama, Indaryanti, S.Sos., M.A.P., Kepala Seksi Bina Usaha Bidang Koperasi, Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah  Kabupaten Gunung Kidul, yang mewakili Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P. Judul paper bupati adalah Strategi Bisnis Tingkat Kabupaten, Penguatan Ketahanan Pangan dan Stimulus Keterlibatan Anggota Koperasi Desa Merah Putih dalam Sistem Produksi Ramah Lingkungan. Dikatakan, Pemda telah memetakan visi dan kondisi strategis Kabupaten Gunungkidul dengan meningkatkan potensi dari 144 kalurahan yang berbasis ekonomi pertanian dan UMKM yang kuat. Potensi unggulan itu adalah sentra padi, jagung, ketela, hortikultura, peternakan, perikanan budidaya, tangkapan ikan serta destinasi wisata unggulan dengan ribuan pelaku UMKM desa. Namun, tantangan strategis adalah hasil pertanian yang masih rendah,  distribusi yang belum efisien, regenerasi petani, akses pembiayaan yang terbatas, serta kelembagaan ekonomi desa yang masih perlu diperkuat secara sistematis.  Dengan tantangan yang ada tiga pilar strategi bisnis Tingkat kabupaten yang terdiri dari koperasi sebagai offtaker desa, hiliriasasi produk unggulan, dan digitalisasi ekosistem koperasi harus didukung melalui penetapan regulasi daerah yang sudah ada yaitu Perda Kabupaten Gunungkidul Nomor 10 Tahun 2025 terkait dengan perlindungan produk lokal. Sementara itu, Dra Endang Sri Sumiyartini, M.A.P, Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul menjelaskan bahwa implementasi regulasi harus melalui proses hilirisasi di mana penguatan fasilitas produk lokal yang diarahkan kepada sentra produk lokal terpadu diintegrasikan dengan ekosistem koperasi desa merah putih, penguatan kerja sama dan kemitraan seperti yang dilakukan saat ini melalui seminar yang digagaskan oleh Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa dan Yayasan Griya Jati Rasa.

Pada sambutan Ketua Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa, ustad Beny Susanto mengharapkan akan dilakukan tindak lanjut kegiatan seminar ini sebagai bahan pembahasan dalam rapat dengar pendapat bersama perangkat daerah terkait untuk menghasilkan penyempurnaan kebijakan yang mendukung ekspor herbal. Pada Tingkat eksekutif, diharap adakan memberikan dukungan dan masukan sehingga peraturan Bupati sebagai pelaksana dapat disusun sesuai amanat Perda tsb dan mampu mendukung pengembangan serta peluang ekspor produk herbal daerah. Sementara Bapak Tugiran S.Pd, MAP selaku Sekretaris Dinas Perindustrian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Gunung Kidul, yang mewakili Bupati Gunung Kidul, mengucapkan selamat merayakan hari Koperasi Nasional dengan semangat kedaerahan untuk penguatan potensi dan peluang ekspor seperti yang sedang dibahas dalam seminar ini. Secara khusus disampaikan terima kasih kepada Yayasan Griya Jati Rasa dan Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa yang telah menginisiasi seminar strategis ini. Dalam sesi tanya jawab, Ketua Pinbas MUI DI.Yogyakarta, H.Jumarodin M.M sangat terharu  karena persepsi tentang koperasi desa merah putih yang selama ini didengar sangat berbeda dipercakapkan dalam  seminar ini.

Menutup rangkaian acara, komitmen keberlanjutan produk berbasis ekonomi sirkular dipraktikkan langsung melalui dua kegiatan. Pertama, seluruh peserta seminar melakukan kunjungan ke rumah produksi dan lahan basah (herbal) Sri Agung yang sedang panen raya kunir sebagai tanda ketersediaan bahan baku produk herbal. Kedua, pelatihan pengolahan sisa bahan organik olahan herbal Sri Agung menjadi eco enzyme. Produk turunan ini akan langsung dimanfaatkan oleh warga sekitar, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Kelompok Tani Hutan (KTH) sebagai pupuk organik pendukung pertanian desa, pemenuhan kebutuhan rumah tangga, hingga inovasi bahan perawatan tubuh alami (skincare desa). Melalui kemitraan hijau ini, Koperasi Desa Merah Putih membuktikan bahwa ketangguhan ekonomi global dapat dicapai tanpa merusak kelestarian bumi (Farsijana).